Translate

Tuesday, November 11, 2014

Susahnya (Mudahnya?) Jadi Dosen Part 3


Sambungan Part 2... cekidot!

Mobil transport antar kota dalam provinsi berjenis kelamin carry itu pun mulai memasuki jantung Kota Arga Makmur. Seperti yang saya tulis sebelumnya, udara segar pegunungan terasa begitu melenakan. Tak lama, mobil berhenti di terminal kota. Penumpang-penumpang (termasuk saya dong) turun tergesa-gesa, ingin cepat cepat meluruskan pinggang yang serasa bengkok mau patah. krek.. krak..kroook. putar leher kiri kanan, atas bawah. Pantat maju mundur depan belakang.. legaaaa, rileeeks.

Nah, sekarang tinggal cari lokasi kampus tujuan, tempat dimana nanti saya akan mengabdi. Universitas Ratu Samban (Biasa disingkat Unras). Tanya sana sini, akhirnya saya disarankan numpak betor (becak motor). Ga pake argo, tentu. Tapi nego jalan terus. Ongkos disepakati lima ribu perak. Sang abang betor minta saya naik. Dan lagi lagi badan tinggi ini bikin proses masuk ke becak jadi ribet.. "Sebentar, bang. Maklum kaki panjang," Kata saya. "nyantai ajo bang", sahut si betor rider. "kampus tuh dak jaoh dari siko, paling limo menitan". OK deh, ga jauh dari terminal, bagus. jadi kaki saya ga tersiksa lama :).

Si abang betor berkata jujur. Lima menit kurang, transportasi lokal kota kecil ini tiba dengan selamet di kampus Universitas Ratu Samban. Kesan pertama, biasa saja. Kampus ini sama seperti kampus-kampus yang pernah saya lihat atau kunjungi sebelumnya. Dari semula, saya memang tidak mengharapkan lebih karena saya tahu, saya ditempatkan di daerah tingkat dua yang jauh kemana-mana.

Setelah bertemu dengan pihak kampus, mengenalkan diri kepada rektor (yang kebetulan juga PNSD Kopwil 2),  saya balik lagi ke Kota Bengkulu.

Dan... episode perdana kehidupan saya sebagai dosen akan segera dimulai...

Bersambung ke Part 4

No comments:

Post a Comment