Translate

Monday, November 10, 2014

Susahnya (mudahnya?) Jadi Dosen Part 2


Menyambung part sebelumnya...

Demikianlah...saya pun "terdampar" di sebuah kota kabupaten yang tidak pernah saya dengar sebelumnya: Arga Makmur, Bengkulu Utara!. Seumur hidup saya belum pernah ke Kota Bengkulu, eh ini malah lewat sampe ke bagian utaranya. bujubuneng. Setelah mempersiapkan segala sesuatu, mental dan finansial, saya dan tiga orang teman dari Palembang yang bernasib sama berangkat menuju medan pertempuran. Kereta malam jurusan Linggau pun menjadi pilihan. Pertama, naik kereta lebih aman dan nyaman (?). Kedua, ongkosnya lebih murah dibanding numpak travel. Ketiga, badan ga begitu pegel karena bisa tidur selonjoran dengan alas koran (bah! aku masih susah juga tidur, biasa pake spring bed cuy).

Dan kenyamanan yang kami harapkan pun ternyata jauh panggang dari api. S**T!!!. Setiap kereta berhenti di stasiun2 tertentu, berhamburanlah pedagang asongan naik menjajakan dirinya.. ah, dagangannya. Dari P*P Mie, nasi ayam bungkus, bongkol, air mineral berbagai merek, sampai permen dan rokok. Mata yang sudah 3,5 watt kembali terang karena kaki terinjak oleh para asonger itu! Bah!, saya bukannya anti dengan mereka, karena cari nafkah apalagi halal adalah hak dan kewajiban semua umat manusia yang sadar akan hakikat dirinya. Tapi liat-liat dong cuy, ini kaki, bukan batang sapu!

Dan, saat kereta membunyikan pluit panjang tanda masuk stasiun Lubuk Linggau  maka: perjalanan yang - terasa sangat menyedihkan itu, sayang engkau tak disisiku kawan -, akan berakhir segera. yippiyiha! (belakangan saya sadar, perjalanan penuh cobaan ini belum berakhir...uhuk). Kereta malam Palembang - Linggau masuk peron.. tut tut tut... Saya dan kawan yang tiga itu pun turun dengan gontai, sambil seret seret tas koper sebesar gaban. Ngantuk, man!

Begitulah, setelah transit kurang lebih 3 jam, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bengkulu dengan menumpang delman istimewa... sorry masih ngantuk.. maksudnya travel istimewa. Mengapa istimewa? karena ini travel satu-satunya yang berjenis kelamin L300 dan ber-AC, sementara yang lain berjenis kelamin bus, dan Non AC, jejal menjejal dengan petani, pesayur, pengamen, dll (maaf, jangan disalahartikan dengan arogansi rasisme ya). Brrrmm, setelah lebih kurang empat jam perjalanan, ribuan kelokan kiri kanan (tikungan Kepahiyang bikin mabuk kepayang,sob!), saya dan rombongan memasuki Kota Bengkulu.. Melewati Danau Dendam Tak Sudah, dan rumah-rumah beratap seng (mayoritas rumah di sana beratap seng, karena faktor keamanan. Bengkulu termasuk daerah patahan, rawan gempa), kami pun sampai ke pool travel. Alhamdulillah.

Kebetulan,  kawan saya yang bernama Aan Z (sekarang ambil  doktoral di Unpad Bandung) punya tetangga di Palembang yang kerja Di BCA Bengkulu, namanya Kak Buyung. Many Thanks to you, Kak Buyung. Beliau menampung kami selama beberapa hari. Aan ditempatkan di Unihaz sementara saya di Ratu Samban, Arga Makmur, 70an KM ke arah utara Kota Bengkulu. Sigh####.

Dan, saya pun menuju Arga Makmur. Satu-satunya angkutan umum menuju kesana adalah minibus jenis carry, yang interiornya sudah dimodifikasi hingga cukup untuk menjejalkan, memampetkan 12 orang! MasyaAllah, sarden aja ga gitu gitu amat menderitanya, bos!
Satu setengah jam kemudian, mobil masuk kota kecil itu. Udara segar menyeruak masuk dari kaca mobil. Lupa sejenak penderitaan karena kesegaran yang begitu alami.. Ya saudara-saudara, Arga Makmur ternyata kota di kaki bukit. Udara sejuk... murni.. dan sepi... (*)

bersambung ke part 3





No comments:

Post a Comment