It's been a great year! Thanks for being a part of it.... untaian kalimat pendek inilah yang menghiasi dinding para facebooker menjelang pergantian tahun 2014 yang baru lalu. Tim kerja Facebook tampaknya berusaha keras agar para pengguna sosmed ini merasa puas dan tersanjung.
Itulah, sekarang lima hari sudah kita berada di tahun 2015, tahun Kambing menurut sistem zodiak Cina. Tahun Kambing ini sebenarnya akan mulai pada tanggal 19 Februari mendatang, dan berakhir tanggal 7 Februari 2016. Orang Cina percaya, kalau shio ini melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan. bahkan, ada pepatah tua Cina, "tiga kambing membawa harmoni dan kemakmuran".
Poin tambahan dari shio kambing adalah posisinya yang menempati urutan ke-delapan dari 12 shio. Kita mafhum bahwa angka 8 adalah simbol hoki dalam keyakinan orang Cina.
Individu dengan shio ini memiliki karakter yang lumayan yahud. Cerdas, suka keindahan, lemah lembut namun tegas. Yah, kalau ditimbang-timbang hampir samalah dengan shio-shio yang lain.
Tulisan ini sama sekali tidak ada maksud untuk mengupas shio secara mendalam, apalagi mempromosikannya. Karena saya percaya bahwa yang menentukan jalan hidup kita hanya Allah Sang Maha Segalanya. Namun satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa kehidupan manusia, terutama kita yang tinggal di negeri kolam susu ini, tidak pernah lepas dari logika roda berputar. Artinya, posisi kita mengikuti putaran nasib dan takdir. Ketika titik kita pada roda berada di posisi atas, itu tandanya nasib dan takdir kita bagus, gemah ripah loh jinawi (dari segi tertentu), dan saat titik kita berada pada posisi sebaliknya, nasib dan takdir sedang "tidak berpihak" (dari segi tertentu).
Anda pasti membaca kalimat dalam kurung yang saya ulang dua kali: (dari segi tertentu). Makna dari kalimat ini adalah bahwa bisa jadi kita sejahtera dari beberapa segi, namun tidak beruntung dari segi yang lain, dan vice versa. Mungkin sekarang kita banyak uang, namun tidak akur dengan jiran dan handai taulan. Atau, keuangan sedang terjun bebas, namun tetap merasa bahagia yang terhias dengan rasa syukur. Lalu bagaimana bila ekonomi sedang pailit, silahturahmi bangkrut? Bila kita melihat melalui teropong materialistis, maka tidak pelak yang tumbuh adalah kekecewaan dan kegundahgulanaan. Tetapi, bila kita menelisik dari kacamata transedental, maka rasa "kemanusiaan" kita malah akan menguat.
"Kemanusiaan" bahwa kita adalah manusia, dan kita diciptakan. Bahwa kita hidup berdasarkan skenario agung yang dalam proses operasinya tidak dapat ditawar-tawar, meski kita diberikan kesempatan untuk memilih. Kita bisa memilih untuk melihat dari sudut pandang fana,atau dari "keabadiaan".
Mungkin anda akan berpikir atau berteriak, "aah, anda fatalis, Budi. Anda Muktazilah!. Bertobatlah!".
Sebentar my friend, ingat satu bagian dari judul blog ini, "No Protest!, bro". :). Meski saya juga ga bisa melarang apa yang anda pikir atau teriakkan. Yang saya maksudkan adalah, Takdir kita tidak dapat diubah, itu sudah tertulis permanen di Kitab yang agung. Tapi, kita tidak tahu apa skenario yang tertulis untuk kita, sampai kita sadar itu sudah terjadi. Kita tidak tahu 5 W 1 H rangkaian kehidupan kita, dari dalam alam kandungan, sampai alam ukhrowi. Dan karena ketidaktahuan itulah, kita harus merasa "bodoh" dan "tolol", karena itu identik dengan ketidaktahuan. Kita adalah manusia, yang tidak tahu apa-apa, kita bodoh dan tolol karena ilmu yang kita miliki tidak ada setitik atom dari belahan atom dan belahannya lagi dan seterusnya (jikalau ada yang lebih kecil dari atom :P) pabila disandingkan dengan sumber dari pengetahuan itu an sich!
Nah, jemari saya sudah mulai pegal untuk menari di atas tuts kibor ini... Saya hanya ingin menyimpulkan bahwa MZ dan tim facebooknya sepertinya bisa saya katakan sok tau dengan mengatakan "it's been a great year", tanpa didahului oleh ketahuan tentang realita yang dialami oleh klien-kliennya. Dengan sok tau, maka mereka mendahului Sang Pemilik Waktu, yang tidak pernah mengatakan "it's been a great year, thanks for being a part of it".
Wallahualam...
No comments:
Post a Comment